LAPORAN KEGIATAN
PRAKTIK KEPENDIDIKAN
MACROTEACHING
Disusun oleh :
DESI SITOMPUL
031.01.32.14
PROGRAM STUDI D-4 BIDAN PENDIDIK
STIKES BINA PERMATA MEDIKA
TANGERANG
2015
LEMBAR PENGESAHAN
Laporan Kegiatan
Praktik Kependidikan Makroteaching
di Akademi Kebidanan
Assyifa Tangerang
Tahun 2015
Merupakan salah
satu syarat untuk menyelesaikan Pendidikan di Program Studi D-IV Kebidanan Sekolah
Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Permata Medika
Tangerang,
Praktikan
( Desi Sitompul )
Mengetahui
Pembimbing Praktik
(Acih Suarsih, SST, M.MKes)
|
Pembimbing
Akademik
(Amika Rois, SST)
|
Mengetahui
Ketua Program Studi D-4 BidanPendidik
(Erna
Juliana Simatupang, SST, MKM)
NIP. 003-090775-A.02-014
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Tuhan Yang MahaKuasa yang telah melimpahkan rahmatNya sehingga kami dapat menyelesaikan Laporan Kegiatan Praktik Kependidikan Makroteaching Di Akademi Kebidanan Assyifa Tangerang 06 April – 23 April 2015.
Laporan Kegiatan Praktik Kependidikan Makroteaching Di Akademi Kebidanan Assyifa Tangerang ini disusun dengan maksud memenuhi salah
satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan di STIKES Bina Permata Medika
Program Studi D IV Bidan Pendidik. Laporan ini kami susun berdasarkan
kegiatan yang telah kami laksanakan dilapangan mulai tanggal 06 April – 23 April 2015.
Kami menyadari bahwa tanpa bantuan
dan pengarahan dari berbagai pihak, Laporan
Kegiatan Laporan Kegiatan Praktik
Kependidikan Makroteaching ini tidak
akan terselesaikan dengan baik, oleh karena
itu kami mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. dr. Ong Tjandra,MMPd, SpOG (K), selaku ketua STIKES
Bina Permata Medika, yang telah memberikan
ijin untuk melaksanakan praktek di Akademi Kebidanan
Assyifa Tangerang.
2. Erna
Juliana Simatupang, SST, MKM
selaku Ketua Program Studi D-IV Bidan
Pendidik, yang telah mengadakan kegiatan praktek di Akademi Kebidanan Assyifa Tangerang..
3. AmikaRois, SST, selaku
PembimbingAkademik
Praktik Kependidikan Makroteaching, yang telah membimbing
dalam penyusunan laporan Praktik Kependidikan Makroteaching.
4. Sutiah, SSiT,M. MKes, selaku Pembimbing Lahan
Praktik Kependidikan Makroteaching, yang telah membimbing
selama di lahan praktik.
5. Seluruh dosen Stikes Bina Permata Medika, yang telah membantu
penulis demi terlaksananya bimbingan.
6. Seluruh
dosen Akademi Kebidanan Assyifa,
yang telah membantu penulis demi terlaksananya praktik Makroteaching.
7. Suami dan anak-anak ku tercinta yang telah memberikan doa,
dukungan moril dan material dalam menyelesaikan laporan ini.
8. Mahasiswa Akademi Kebidanan Assyifa, yang telah bersedia
menerima materi yang diberikan selama proses Praktik
Kependidikan Makroteaching.
9.
Teman-teman tersayang
Mahasiswa Stikes Bina Permata Medika, yang telah saling mendukung dan membantu saat
penyusunan laporan ini.
Penulis menyadari bahwa
dalam penyusunan laporan ini masih jauh dari sempurna, mengingat pengetahuan
dan pengalaman serta waktu dalam penyusunan laporan ini yang terbatas. Oleh
karena itu, penulis mengharapkan masukan berupa saran dan kritik dari semua
pembaca yang sifatnya membangun agar penyusunan selanjutnya dapat menjadi lebih
baik. Harapan penulis, semoga laporan ini dapat bermamfaat bagi
pembaca pada umumnya dan mahasiswa pada khususnya.
Tangerang,
April 2015
(
Desi Sitompul )
DAFTAR
ISI
HALAMAN JUDUL...................................................................................... i
PERNYATAAN KEASLIAN LAPORAN................................................. ii
LEMBAR PENGESAHAN.......................................................................... iv
KATA PENGANTAR................................................................................... v
DAFTAR ISI.................................................................................................. vii
BAB I PENDAHULUAN.............................................................................. 1
1.1 LatarBelakang............................................................................................ 1
1.2 Tujuan......................................................................................................... 2
1.2.1 Tujuan
Umum.................................................................................. 2
1.2.2 Tujuan
Khusus................................................................................. 2
1.3. Manfaat
Penulisan................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN TEORI......................................................................... 4
2.1.
Satuan Acara Pembelajaran (SAP)............................................................ 4
2.1.1.
Definisi............................................................................................ 4
2.1.2. Komponen-komponen...................................................................... 4
2.1.3. Kegiatan
Belajar Mengajar............................................................... 5
2.1.4. Media
dan Alat Pengajaran.............................................................. 7
2.1.5. Evaluasi............................................................................................ 7
2.1.6. Referensi.......................................................................................... 7
2.2.
Contract Learning...................................................................................... 8
2.3.
Bahan Ajar................................................................................................. 8
2.4. PenuntunBelajar........................................................................................ 9
2.5.
DaftarTilik................................................................................................. 10
BAB
III KEGIATAN PRAKTEK KLINIK............................................... 12
3.1. SAP dalam Kegiatan
Praktek Klinik.......................................................... 12
3.1.1.
SAP Contract Learning.................................................................... 12
3.2. SAP Bahan Ajar........................................................................................ 15
3.2.1.BahanAjar......................................................................................... 20
3.3. SAP Demonstrasi...................................................................................... 23
3.3.1. Penuntun Belajar............................................................................. 26
3.4. SAP Praktik............................................................................................... 33
3.4.1. Daftar Tilik...................................................................................... 36
3.5. Format Kelengkapan Ujian........................................................................ 40
3.5.1
Permohonan Ujian......................................................................... 40
3.5.2
Perangkat Mandiri......................................................................... 44
3.5.3
POA............................................................................................... 48
3.5.4
Perangkat Penilaian....................................................................... 57
3.6. Resume Kegiatan....................................................................................... 63
3.7. Kegiatan Pre dan Post Conference............................................................ 64
BAB IV PEMBAHASAN.............................................................................. 67
4.1. Analisa....................................................................................................... 67
4.2. Kendala..................................................................................................... 67
4.3. Kelebihan................................................................................................... 68
BAB V PENUTUP......................................................................................... 69
5.1. Kesimpulan................................................................................................ 69
5.2. Saran.......................................................................................................... 69
Daftar Pustaka
Lampiran
BAB I
PENDAHULUAN
1.1.Latar Belakang
Setiap
kegiatan yang akan dilakukan apa lagi untuk mencapai sesuatu dari yang
dilakukan tersebut memerlukan suatu perencanaan atau pengorganisasian yang dilaksanakan
secara sistematis dan terstruktur. Demikian juga dalam suatu pendidikan baik
jenis dan jenjangnya pasti memerlukan suatu program yang terencana dan
sistematis sehingga dapat menghantarkan pada tujuan yang diinginkan.
Seiring
berjalannya waktu, dan dari masa ke masa generasi akan terus berganti. Begitu
banyak pelatihan-pelatihan yang dilakukan untuk memperbaiki kwalitas pengajaran
dalam sebuah proses pembelajaran. Hal tersebut dilakukan untuk meningkatkan
kapasitas dan kapabilitas serta profesional seorang pengajar dalam proses
pembelajaran. Oleh karenanya, para calon tersebut yang dikumpulkan dalam
pendidikan tinggi dengan konsentrasi ilmu pendidikan harapannya bisa menjadi
lebih professional dan mampu mengembangkan pembelajaran yang efektif dan
efisien serta menyenangkan dan bisa diterima oleh peserta didik atau bagi
siswa. Diantaranya dengan memanfaatkan fasilitas perkuliahan mata kuliah
pengajaran makro.
Oleh karena itu mata kuliah makro
teaching merupakan faktor yang sangat penting dalam proses pendidikan pada
lembaga pendidikan tinggi. Dengan demikian akan menjadi jelas dan terencana
tentang bagaimana dan apa yang harus
diterapkan dalam proses belajar mengajar.Peranan adalah pola tingkah laku yang
diharapkan dari seseorang yang menduduki suatu jabatan atau pola tingkah laku
yang diharapkan pantas dari seseorang.
Pada
beberapa hal diatas maka, Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Bina Permata Medika
Penyelenggaraan Program Studi D-4 Bidan Pendidik bertujuan untuk menghasilkan
tenaga pendidik profesional di bidang kebidanan, serta handal dalam praktik
klinikal. STIKES BPM berkomitmen membentuk lulusan D4 Bidan Pendidik yang
berkualitas dengan nilai-nilai kepribadian dan sikap yang positif, sehingga
mampu menjalin hubungan interpersonal yang harmonis baik di lingkungan
pendidikan maupun dalam lingkungan sosial - masyarakat.
Dalam
program pendidikan D IV bidan pendidik dengan memberikan mata kuliah yang harus
dipelajari yaitu metode khusus dan praktek klinical, praktik klinical untuk
mahasiswa program pendidikan D IV bidan
pendidik adalah praktek
kependidikan dilahan yang sudah ditentukan oleh
pendidikan sebagai bentuk laporan dari kegiatan praktik kependidikan yang dilakukan dan disusun oleh mahasiswi
untuk pendidikan.
1.2.Tujuan
1.2.1.
Tujuan
Umum
Setelah
melaksanakan praktikkependidikan, mahasiswa D-4 bidan pendidik STIKES Bina
Permata Medika diharapkan mendapatkan
pengalamam factual tentang pelaksanaan proses pembelajaran atau kegiatan
kependidikan, administrasi, manajemen, teknologipendidikan.
1.2.2. Tujuan
Khusus
Setelah
menyelesaikan praktikkependidikan selama
3 minggu, mahasiswa D-4 bidan pendidik diharapkan mampu:
1. Menguasai substansi kajian kebidanan atau materi dalam
GBPP Kurikulum D-III Kebidanan.
2. Merencanakan dan mempersiapkan proses pembelajaran.
3. Melaksanakan proses pembelajran dengan menggunakan
berbagai metode dan media yang tepat
baik dalam teori maupun praktik.
4. Melakukan penilaian proses pembelajaran baik teori
maupun praktik.
5. Melakukan administrasi akademik.
1.3. Manfaat Penulisan
1. Bagi
Mahasiswa
Menambah wawasan dan
pengalaman dalam proses
pembelajaran baik teori maupun praktik, dan menerapkan
secara langsung teori-teori yang didapat di kelas.
2. Bagi
Pendidikan
Diharapkan dapat
menambah pembendaharaan, perpustakaan, dan perencanaan program di institusi
pendidikan.
3. Bagi
Lahan Praktik (BPS)
Dapat dijadikan sebagai
wacana baru untuk meningkatkan pengetahuan dan pandangan bahwa praktikkependidikan
sangat penting artinya bagi mahasiswi dalam menambah
wawasan dan pengalamanya.
4. Bagi
Masyarakat
Dengan adanya
pembelajaran praktikkependidikan diharapkan akan menghasilkan tenaga pendidik yang professionaldan
mampu mengembangkan pembelajaran yang efektif dan efisien serta menyenangkan
dan bisa diterima oleh peserta didik atau bagi siswa.
BAB II
TINJAUAN
TEORI
2.1. Makroteaching
2.1.1.
Defenisi
Makroteaching adalah praktikum yang bersifat aplikatif
dan terpadu dari seluruh pengalaman belajar sebelumnya ke dalam program
pelatihan untuk menyiapkan mahasiswa agar menguasai kompetensi kependidikan
sehingga dapat mengemban tugas dan tanggung jawab secara professional.
Pada program ini mahasiswa sebagai calon dosen berlatih
mengajar.
2.1.2. Tujuan
Untuk melatih mahasiswa agar memiliki pengalaman factual
tentang proses pembelajaran yang selanjutnya dapat dipakai sebagai bekal untuk
mengembangkan diri sebagai tenaga pendidik yang professional yang memiliki
nilai, sikap, pengetahuan, dan keterampilan yang diperlukan dalam profesinya.
2.2. Satuan Acara
Pembelajaran (SAP)
2.2.1.
Definisi
Menurut Suparman
(2005), SAP adalah program pengajaran yang meliputi satu atau beberapa pokok
bahasan untuk diajarkan selama satu kali atau beberapa kali pertemuan. SAP
mengandung komponen-komponen yang lebih lengkap dari Garis-garis Besar Program
Pengajaran (GBPP). Satuan acara pembelajaran (SAP) sangat bermanfaat sebagai
pedoman bagi pengajar termasuk dosen. SAP memberikan petunjuk secara rinci,
pertemuan demi pertemuan, mengenai tujuan, ruang lingkup materi yang harus
diajarkannya, kegiatan belajar mengajar, media, dan evaluasi yang harus
digunakan.
2.2.2. Komponen-komponen
Menurut
Suparman (2005), komponen-komponen SAP adalah sebagai berikut :
1. Tujuan
instruksional umum (TIU)
Tujuan Instruksional
Umum (TIU) terjemahan dari general instructional objective atau sering pula disebut instructional goal atau terminal objective (tujuan akhir). . TIU berisi kompetensi-kompetensi umum
yang diharapkan dikuasai, didemontrasikan, atau ditampilkan oleh peserta didik
atau peserta pelatihan setelah menyelesaikan sauatu mata kuliah.
2. Tujuan
instruksional khusus (TIK)
Tujuan Instruksional
Khusus (TIK) terjemahan dari specifik instructional
objective. TIK disebut pula sebagai sasaran belajar atau tujuan
pembelejaran. Pokok bahasan atau topik merupakan judul yang mencerminkan isi
atau materi kuliah yang konsisten dengan setiap TIK.
3. Topik
atau pokok bahasan
Sub pokok bahasan Sub
pokok bahasan mencerminkan rincian materi kuliah yang konsisten dengan pokok
bahasan.
4. Estimasi
waktu yang dibutuhkan pengajar dalam mengajarkan materi perkuliahan untuk
setiap sub pokok bahasan.
5. Sumber
kepustakaan
2.2.3. Kegiatan Belajar
Mengajar
Kegiatan
belajar mengajar adalah tahap-tahap kegiatan yang dilakukan pengajar dan
mahasiswa untuk menyelesaikan materi kuliah. Dalam hal ini materi kuliah tersebut
dibatasi pada pokok bahasan yang ada dalam suatu SAP. Tahap kegiatan itu
terdiri dari tahap pendahuluan (introduction),
tahap penyajian (presentation), dan
tahap penutup (test and follow up).
Berikut ini akan diuraikan secara singkat pengertian setiap tahap tersebut.
1. Tahap
Pendahuluan
Tahap pendahuluan
adalah tahap persiapan atau tahap awal sebelum memasuki penyajian materi yang
akan diajarkan. Pada tahap ini pengajar menjelaskan secara singkat (global) tentang materi yang akan
diajarkan dalam pertemuan tersebut, kegunaan materi tersebut dalam kehidupan
sehari-hari, hubungan materi tersebut dengan pengetahuan yang telah diketahui
mahasiswa, dan TIU dan TIK yang akan dicapai mahasiswa pada akhir pertemuan.
Tahap ini dimaksudkan untuk mempersiapkan mental mahasiswa agar memperhatikan
dan belajar secara sungguh-sungguh selama tahap penyajian. Bagian pendahuluan
ini biasanya hanya membutuhkan waktu 5 sampai 10 menit atau sekitar 5% dari
waktu pengajaran.
2. Tahap
Penyajian
Tahap penyajian
merupakan proses belajar mengajar yang utama dalam suatu pengajaran. Di
dalamnya tercakup bagian-bagian sebagai berikut : Uraian (explanation), baik dalam bentuk verbal maupun non verbal seperti
penggunaan grafik, gambar, benda sebenarnya (realia), model, dan/atau demonstrasi gerak.
1. Contoh
(example) dan non contoh (non example) yang praktis dan konkrit
dan uraian konsep yang masih bersifat abstrak.
2. Latihan
(exercise) merupakan praktik bagi
mahasiswa untuk menerapkan konsep abstrak yang sedang dipelajari dalam bentuk
kegiatan fisik misalnya studi kasus untuk pemecahan masalah, berhitung dengan
angka untuk pemecahan soal matematika, atau dalam bentuk praktek melakukan
suatu tugas praktikum. Sebagian besar (80-90 %) dari waktu kegiatan belajar
mengajar digunakan dalam tahap penyajian ini.
3. Penutup
Tahap penutup merupakan
tahap akhir suatu pengajaran. Tahap ini meliputi 3 kegiatan, yaitu :
a. Pelaksanaan
tes hasil belajar, untuk dijawab atau dikerjakan mahasiswa. Sering kali tes ini
dilaksanakan secara tidak formal dan tidak tertulis, tetapi secara lisan untuk
dijawab atau dikerjakan oleh mahasiswa yang ditunjuk sebagai sampel.
b. Umpan
balik yang berupa informasi atas hasil tes.
c. Tindak
lanjut berupa petunjuk tentang apa yang harus dilakukan atau dipelajari
mahasiswa selanjutnya, baik untuk memperdalam materi yang telah dipelajari
dalam pertemuan tersebut maupun untuk mempersiapkan diri mengikuti pertemuan
yang akan datang.
Tahap
penutup ini hanya membutuhkan waktu sekitar 10-20 menit atau 10-15 % dari waktu
pengajaran.
Dari uraian tentang
kegiatan belajar mengajar tersebut nampak bahwa di dalamnya tercakup komponen
metode pengajaran. Untuk menjelaskan suatu konsep abstrak pengajar dapat
menggunakan ceramah, sedangkan untuk memberikan contoh dalam bentuk kegiatan
fisik pengajar menggunakan demonstrasi.
2.2.4. Media dan Alat
Pengajaran
Menurut
Suparman (2005), media adalah alat yang digunakan untuk menyalurkan isi
pelajaran agar dapat dilihat, dibaca, atau didengar oleh mahasiswa. Jenis media
yang sering digunakan dalam pengajaran adalah buku atau bahan cetak, papan
tulis, foto, contoh batu-batuan untuk mata kuliah geologi, transparansi, dan over head projector (OHP). Alat
pengajaran adalah benda yang digunakan dalam pengajaran sehingga memungkinkan
terjadinya proses belajar mengajar.
Di samping itu kadang-kadang digunakan pula
film bingkai (slide) dan slide projector, kaset video dan video
set. Fungsi dari media tersebut adalah mengambarkan isi pelajaran kepada
mahasiswa.
2.2.5. Evaluasi
Menurut Suparman
(2005), evaluasi adalah alat ukur yang digunakan untuk mengukur hasil belajar
mahasiswa dan cara melaksanakan pengukuran tersebut. Alat ukur tersebut dapat
berbentuk tes karangan (essay test)
atau tes objektif untuk tujuan instruksional dalam kawasan kognitif, dan tes
kinerja (performancetest) untuk
tujuan instruksional yang mengandung kawasan psikomotor. Cara pelaksanaannya
dapat berbentuk tulisan atau lisan untuk kawasan kognitif dari unjuk kerja
untuk kawasan psikomotor.
2.2.6. Referensi
Yang
dimaksud dengan referensi adalah buku atau bahan yang dijadikan acuan dalam
menyajikan materi dalam SAP tersebut (Suparman, 2005).
2.3.
Bahan Ajar
Menurut Imas Kurniasih (2014), bahan ajar adalah segala bentuk bahan berupa seperangkat materi yang disusun
secara sistematis untuk membantu siswa dan guru dalam melaksanakan kegiatan
pembelajaran dan memungkinkan peserta didik untuk belajar.
Bahan ajar bisa berupa kaset, video, CD-Room, kamus, buku bacaan, buku kerja,
atau fotokopi latihan soal. Bahan juga bisa berupa koran, paket makanan, foto,
perbincangan langsung dengan mendatangkan penutur asli, instruksi-instruksi
yang diberikan oleh guru, tugas tertulis atau kartu atau juga diskusi antar
siswa. Ada berbagai metode
intruksional yang biasa dipakai dosen dalam proses mengajar diperguruan tinggi,
seperti metode kuliah mimbar atau ceramah, metode diskusi, dan lain-lain.
Bahan ajar adalah bahan-bahan atau
materi perkuliahan yang disusun secara sistematis yang digunakan dosen dan
mahasiswa dalam proses perkuliahan. Bahan ajar mempunyai struktur dan urutan
yang sistematis, menjelaskan tujuan instruksional yang akan dicapai, memotivasi
mahasiswa untuk belajar, mengantisipasi kesukaran belajar mahasiswa dalam
bentuk penyediaan bimbingan bagi mahasiswa untuk mempelajari bahan tersebut,
memberikan latihan bagi mahasiswa, menyediakan rangkuman, dan secara umum
berorientasi pada mahasiswa secara individual.
Ada berbagai cara dapat dilakukan dosen
untuk mengatasi situasi perkuliahan seperti itu salah-satunya adalah dengan
menyusun bahan ajar bagi mahasiswa. Bahan ajar yang dirancang dan dikembangkan
berdasarkan prinsip-prinsip instruksional yang baik akan dapat membantu
mahasiswa dalam proses belajarnya, membantu dosen untuk mengurangi waktu waktu
penyajian materi dan memperbanyak waktu bimbingan dosen bagi mahasiswa,
membantu perguruan tinggi dalam menyelesaikan kurikulum dan mencapai tujuan
instruksional dengan waktu yang tersedia.
2.4. Penuntun
Belajar(Job Sheet)
Job
sheetadalah suatu media pendidikan yang
dicetak (a printed type of teaching aid) yang mendukung instruktur dalam
pengajaran keterampilan terutama di workshop, yang isinya merupakan seperangkat
pengarahan dan gambar tentang bagaimana cara membuat atau menyelesaikan suatu
job. Jadi Job sheet merupakan salah satu bentuk dari instruction
sheet (Yahya, 2010).
Menurut
Yahya (2010), salah satu aspek yang paling dominan dalam proses pembelajaran
praktik permesinan adalah keberadaan job sheet, karena job sheet dipakai untuk pemandu atau pegangan mahasiswa dalam
mempelajari dan menguasai salah satu kompetensi yang diajarkan oleh pendidik .
Komponen Pada Job Sheet
Menurut Yahya
(2010), komponen pada job sheet
memuat tentang:
1. Materi
pokok
2. kegiatan
praktik yang terdiri dari;
a. langkah-langkah
kegiatan/proses yang harus dilakukan mahasiswa
b. pembelajaran praktik dengan menggunakan
peralatan harus benar
c. seringkali
dilakukan pre-test sebelum
d. mahasiswa
praktik
3. Alat
evaluasi yang digunakan
4. Keselamatan
kerja.
Menurut
(Yahya,2010) ada dua jenis job sheet yang digunakan dalam pebelajaran praktik
yaitu: job produksi (productions job) dan job kombinasi (combining exercises
and production jobs).
2.5. Daftar Tilik
Daftar tilik adalah suatu instrumen yang digunakan untuk mengukur sampai
seberapa jauh pelayanan sesuai atau tidak sesuai dengan standar yang
ditetapkan. Daftar tilik berisi daftar kelengkapan sarana, pra sarana,
pengetahuan, kompetensi teknis, persepsi klien, dan sebagainya (Yahya, 2010).
Daftar tilik
adalah daftar urutan kerja (actions)
yang dikerjakan secara konsisten, diikuti dalam pelaksanaan suatu rangkaian
kegiatan, untuk diingat, dikerjakan, dan diberi tanda (check-mark). Daftar tilik merupakan bagian dari sistem manajemen
mutu untuk mendukung standarisasi suatu proses pelayanan. Daftar tilik tidak
dapat digunakan untuk prosedur yang kompleks.
Daftar
tilik digunakan untuk mendukung, mempermudah pelaksanaan dan memonitor
prosedur, bukan untuk menggantikan prosedur itu sendiri.
Langkah-langkah
Menyusun Daftar Tilik
1. Identifikasi prosedur yang membutuhkan daftar tilik
untuk mempermudah pelaksanaan dan
monitoringnya
2. Gambarkan flow-chart dari prosedur tersebut
3. Buat daftar kerja yang harus dilakukan
4. Susun urutan kerja yang harus dilakukan
5. Masukkan dalam daftar tilik sesuai dengan format
tertentu
6. Lakukan uji-coba
7. Lakukan perbaikan daftar tilik
8. Standarisasi daftar tilik.
BAB III
KEGIATAN
PRAKTIK MAKROTEACHING
3.1.
SAP (SATUAN
ACARA PEMBELAJARAN)
Bidang
Studi
|
:
|
Etika
Profesi dan Hukum Kesehatan
|
Kode Mata
Kuliah
|
:
|
402
|
Beban
Studi
|
:
|
2 SKS
|
Pokok
Bahasan
|
:
|
Peran dan fungsi majelis
pertimbangan Kode Etik Kebidanan
|
Sub Pokok
Bahasan
|
:
|
1.
Peran dan
fungsi majelis pertimbangan kode etik Kebidannan
2.
Standar Profesi Kebidanan
|
Sasaran
|
;
|
Mahasiswa
Akbid
|
Pertemuan
|
:
|
12
|
Semester
|
:
|
II
|
Waktu
|
:
|
3 x 50 ‘
|
Dosen
|
:
|
Desi
Sitompul
|
I. Tujuan Pembelajaran Umum: Setelah
menyelesaikan perkuliahan ini mahasiswa akan
dapat memahami tentang peran dan
fungsi Majelis Pertimbangan.
II. Tujuan Pembelajaran Khusus
Setelah
mengikuti perkuliahan diharapkan mahasiswa dapat :
a. Menjelaskan peran dan fungsi
Majelis Pertimbangan Kode Etik
b. Menjelaskan peran dan fungsi
Majelis Pertimbangan Etik Profesi
III. Materi
Peran
dan fungsi majelis pertimbangan
IV. Kegiatan
Belajar Mengajar
NO
|
KEGIATAN
DOSEN
|
KEGIATAN MAHASISWA
|
WAKTU
|
|
|
A.
Membuka perkuliahan
1.
Memberi salam memperkenalkan diri kepada mahasiswa
2.
Memeriksa daftar hadir
3.
Menyampaikan tujuan pembelajaran
4.
Memberikan apersepsi
|
Menjawab
salam
Menyimak
Menjawab
|
15 “
|
|
|
B.
Kegiatan Inti
1.
Menyampaikan materi tentang Konsep dasar penyulit
kala I dan II
2.
Memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk
bertanya
3.
Memberikan kesempatan kepada mahasiswa lain untuk
menjawab
4.
Memberikan reinforcement
5.
Memperjelas jawaban mahasiswa
|
Menyimak
Mencatat
Mengajukan
pertanyaan
Menjawab
secara bervariasi
|
120 “
|
|
|
C.
Kegiatan akhir
1.
Menyimpulkan materi
2.
Memberikan evaluasi
3.
Memberikan Tugas pada mahasiswa untuk mencoba
kembali materi yang telah disampaikan
|
Menyimak
Mengerjakan
evaluasi
Melaksanakan
tugas
|
15 “
|
I.
Metode Pembelajaran
a.
Ceramah
b.
Diskusi
c.
Tanya Jawab
d.
Tugas
II.
Media :
OHP/OHT,
Sidol,White Board, LCD
Sumber :
M.U.
Dahlan Etika Dan Hukum Kesehatan ,
Modul Perkuliahan.2003
Pengurus
Pusat IBI, Keputusan Mentri Kesehatan
RI NO. 369/MENKES/SK/III/2007 Tentang Standar Profesi Bidan.
Setiawan
,SH, M.KES, Etika Kebidanan Dan Hukum
Kesehatan ,EGC 2007
III.
Evaluasi
Pertanyaan
Tertulis sebanyak 8 soal
1. Jelaskan Peran dan fungsi majelis pertimbangan
kode etik
2. Jelaskan Peran dan fungsi majelis pertimbangan
etik profesi
3.1.1. Bahan Ajar
PERAN DAN FUNGSI MAJELIS PERTIMBANGAN KODE ETIK DAN
KODE ETIK PROFESI KEBIDANAN
A.
Kode Etik
Etika berasal dari bahasa
Yunani . menurut etimologi berasal dari kata ETHOS yang artinya kebiasaan atau
tingkah laku manusia . Dalam bahasa Inggris di sebut ETHIS yang artinya
ssebagai ukuran tingkah laku atau prilaku manusia yang baik, yakni tindakan
manusia yang tepat yang harus dilaksanakan oleh manusia itu sesuai dengan etika
moral pada umumnya. Etika merupakan suatu cabang ilmu filsafat yang mengatur
prinsip – prinsip tentang moral dan tentang baik buruknya suatu perilaku.
Etika merupakan aplikasi
atau penerapan teori tentang filosofi moral ke dalam situasi nyata dan berfokus
pada prinsip – prinsip dan konsep yang membimbing manusia berfikir dan
bertindak dalam kehidupannya yang dilandasi oleh nilai – nilai yang dianutnya.
Banyak pihak yang menggunakan istilah etik untuk menggambarkan etika suatu
profesi dalam hubungannya dengan kode etik profesional.
Sedangkan Kode Etik itu
sendiri adalah suatu cirri profesi yang bersumber dari nilai – nilai internal
dan eksternal suatu disiplin ilmu dan merupakan pernyataan komprehensif suatu
profesi yang memberikan tuntutan bagi anggota dalam melaksanakan pengabdian
profesinya.
Maka secara sederhana juga
dapat dikatakan bahwa etika adalah disiplin yang mempelajari tentang baik
buruknya sikap tindakan atau perilaku.
B. Tujuan Kode
Etik Profesi
1.
Untuk menjunjung tinggi martabat dan
citra profesi
2. Untuk menjunjung tinggi dan memelihara kesejahteraan para anggotanya
3. Untuk meningkatkan pengabdian para anggota profesi
4. Untuk meninngkatkan mutu profesi
Didalam pelaksanaanya penetapan kode etik IBI harus dilakukan oleh
Kongres IBI. Hal ini terjadi karena kode etik suatu organisasi akan mempubyai
pengaruh yang kuat dalam menegakan disiplin di kalangan profesi, jika semua
orang menjalankan profesi yang sama tersebut tergabung dalam suatu organisasi
profesi . Hal ini menjadi lebih tegas dengan pengertian bahwa apabila seetiap
orang yang menjalankan suatu profesi maka secara otomatis dia tergabung dalam
suatu organisasi atau ikatan profesi.Apabila hal ini dapat dilaksanakan dengan
baik maka barulah ada suatu jaminan bahwa profesi tersebut dapat dijalankan
secar murni dan baik, karena setiap anggota profesi yang melakukan pelanggaran
terhadap kode etik dapat dikenakan sangsi dalam menjalankan tugasnya.
Sehubungan dengan pelaksanaan kode
etik profesi, bidan dibantu oleh suatu lembaga yang disebut Majelis
Pertimbangan Kode Etik Bidan Indonesis dan Majelis Pertimbangan Etika Profesi
Bidan Indonesia dalam organisasi IBI terdapat Majelis Pertimbangan Etika Bidan
( MPEB ) DAN Majelis Pembelaan Anggota ( MPA ).
A. Pengertian
Majelis Etika Profesi merupakan badan perlindungan hukum terhadap para
bidan sehubungan dengan adanya tuntutan darii klien akibat pelayanan yang
diberikan dan tidak melakukan indikasi penyimpangan hukum. Realisasi majelis
etika profesi bidan adalah suatu bentuk MPEB ( Majelis Pertimbangan Etika Bidan
) dan MPA ( Majelis Pembelaan Anggota ).
B.
latar belakang
Latar belakang di bentuknya MPEB (Majelis Pertimbangan Etika Bidan )
adalah adanya unsure – unsure pihak yang terkait :
1.
Pemeriksaan pelayanan untuk pasien
2.
Sarana pelayanan kesehatan
3.
Tenaga pemberi pelayanan yaitu bidan.
Pelaksanaan tugas bidan dibatasi oleh norma, etika, dan agama, tetapi
apabila ada kesalahan dan menimbulkan konflik etik maka diperlukan wadah untuk
menentukan standar profesi, prosedur yang baku dank ode etik yang disepakati ,
maka perlu dibentuk MPEB ( Majelis Pertimbangan Etika Bidan ) dan MPA ( Majelis
Pembelaan Anggota )
Dasar penyusunan Majelis Pertimbangan Etika Profesi adalah Majelis
Pembinaan dan Pengawasan Etika Pelayanan Medis ( MP2EPM) :
1.
Kepmenkes RI no 554 / Menkes / Per / XOO/1982
Memberikan pertimbangan dan melaksanakan pengawasan
terhadap semua profesi tenaga kesehatan dan sarana pelayanan medis.
2. Peraturan Pemerintah NO 1 TAHUN 1988
Bab V Pasal 11
Pembinaan dan
pengawasan terhadap Dokter, Dokter gigi dan tenaga kesehatan dalam menjalankan
profesinya dilakukan oleh Mentri Kesehatan atau pejabbat yang ditunjuk.
3. Surat Keputusan Mentri
Kesehatan no 640 / Menkes/ Per / XI/ 1991
Tentang pembentukan
MP2EPM.
C. Tujuan
Tujuan dibentuknya Majelis Etika Bidan
adalah untuk memberikan perlindungan yang seimbang dan objektif kepada bidan
dan penerima pelayanan.
Dengan kata lain untuk memberikan keadilan
pada bidan bila terjadi kesalahpahaman dengan pasien atas pelayanan yang tidak
memuaskan yang bias menimbulkan tuntutan dari pihak pasien. Dengan catatan
bidan sudah melakukan tugasnya sesuai dengan standar kompetensi bidan dan
sesuai dengan standar praktek bidan.
D. Lingkup
Lingkup Majelis Etika Kebidanan
meliputi :
1. Melakukan peningkatan fungsi pengetahuan
sesuai dengan standar profesi pelayanan bidan ( Kepmenkes no 900 / Menkes / SK
/ VII / Tahun 2002.
2. Melakukan supervise lapangan, termasuk
tentang teknis dan pelaksanaan praktek termasuk penyimpangan yang terjadi.
Apakah pelaksanaan praktek bidan sesuai dengan standar praktek bidan, standar
profesi bidan, standar profesi dan standar pelayanan kebidanan, juga batas –
batas kewenaangan bidan.
3. Membuat pertimbangan bila terjadi kasus
– kasus dalam praktek kebidanan.
4. Melakukan pembinaan dan pelatihan
tentang hukum kesehatan, khususnya yang berkaitan atau melandasi praktik bidan.
E.
Pengorganisasian
Pengorganisasian
Majelis Etika Kebidanan adalah sebagai berikut :
1. Majelis Etika Kebidanan merupakan
lembaga organisasi yang mandiri, otonom dn non structural.
2. Majelis Etika Kebidanan di bentuk
ditingkat Provinsi dan Pusat.
3. Majelis Etika Kebidanan pusat
berkedudukan di Ibukota Negara dan Majelis Etika Kebidanan Provinsi
berkedudukan di Ibukota Provinsi.
4. Majelis Etika Kebidanan pusat dan
Provinsi dibantu oleh sekertaris.
5. Jumlah anggota masing – masing terdiri
dari 5 orang.
6. Masa bakti anggota Majelis Etika
Kebidanan selama 3 tahun dan sesudahnya , jika berkedudukan evaluasi memenuhi
ketentuan yang berlaku maka anggota tersebut dapat dipilih kembali.
7. Anggota Majelis Etika Kebidanan diangkat
dan diberhentikan oleh Mentri Kesehatan.
8. Susunan Organisasi Majelis Etika
Kebidanan terdiri dari :
1. Ketua
dengan kualifikasi mempunyai kompetensi tambahan dibidang hukum.
2. Sekertaris
merangkap anggota.
3. Anggota
Majelis Etika Keidanan
F. Peran
Majelis Pertimbangan Etika Bidan ( mpeb ) DAN Majelis Pembelaan Anggota
( MPA ) secara internal berperan memberikan saran, pendapat dan buah pikiran
tentang masalah pelik yang sedang dihadapi khususnya yang menyangkut
pelaksanaan kode etiik bidan dan pembelaan anggota.
G. Fungsi
Dewan Pertimbangan Etika Bidan (
DPEB ) dan Majelis Pembelaan Anggota ( MPA ) memiliki fungsi antara lain :
1. Merencanakan dan
melaksanakan kegiatan bidan sesuai dengan ketetapan Pengurus Pusat.
2. Melaporkan hasil kegiatan
sesuai dengan bidang dan tugasnya secara berkala.
3. Memberikan saran dan
pertimbangan yang perlu dalam rangka tugasnya secara berkala.
4. Membentuk Tim Teknis sesuai
dengan kebutuhan.
H. Tugas
MPEB dan MPA merupakan majelis
independen yang berkonsultasi dan berkoordinasi dengan pengurus inti dalam IBI
tingkat Nasional.MPEB secara internal memberikan saran, pendapat dan buah
pikiran tentang masalah pelik yang sedang dihadapi khususnya yang menyangkut
pelaksanaan kode etik bidan pembelaan anggota.
DPEB dan MPA memiliki tugas
antara lain :
1. Mengkaji.
2. Menangani.
3. Mendampingi anggota yang
mengalami permasalahan dalam praktek kebidanan yang berkaitan dengan permasalahan
hukum.
Da.lam menjalankan tugasnya
sehubungan dengan pelaksanaan kode etik profesi, bidan dbantu oleh suatu
lembaga yang disebut Majelis Pertimbangan Kode Etik Bidan Indonesia dan Majelis
Pertimbangan Etika Profesi Bidan Indonesia.
Tugasnya secara umum ialah
:
1. Merencanakan dan
melaksanakan kegiatan bidang sesuai
dengan ketetapan pengurus pusat.
2 Melaporkan hasil kegiatan di bidang
tugasnya secara berkala.
3. Memberikan saran dan
pertimbangan yang perlu dalam rangka
tugas pengurus pusat
4. Membentuk tim teknis sesuai
kebutuhan, tugas dan tanggungjawabnya ditentukan pengurus.
Tugas Majelis Etika Kebidanan adalah meliputi :
1. Meneliti dan menentukan ada
dan tidaknya kesalahan atau kelalaian dalam menerapkan standar profesi yang
dilakukan oleh bidan.
2. Penilaian didasarkan atas
permintaan pejabat, pasien dan keluarga yang dirugikan oleh pelayanan
kebidanan.
3. Permohonan secara tertulis
dan di sertai data – data.
4. Keputusan tingkat provinsi
bersifat final dan bias konsul ke Majelis Etik Kebidanan pada tingkat pusat.
5. Sidang Majelis Etik
Kebidanan paling lambat tujuh hari, setelah diterima pengaduan. Pelaksanaan
siding menghadirkan dan minta keterangan dari bidan dan saksi – saksi.
6. Keputusan paling lambat 60
hari, dan kemudian disampaikan secara tertulis kepada pejabat yang berwenang.
7. Biaya dibebankan pada
anggaran pimpinan pusat IBI atau pimpinan daerah IBI ditingkat provinsi.
I. Keanggotaan
Keanggotaan MPEB dan MPA terdiri dari :
1. Ketua.
2. Sekertaris.
3. Bendahara.
4. Anggota.
STANDAR
PRAKTIK KEBIDANAN
A. Pengertian Standar
Praktik Kebidanan
Standar adalah
ukuran atau parameter yang digunakan sebagai dasar untuk menilai tingkat
kualitas yang telah disepakati dan mampu dicapai dengan ukuran yang telah
ditetapkan. Penentuan standar profesi selalu berkaitan erat dengan situasi dan
kondisi dari tempat standar profesi itu berlaku. Sebagai tenaga kesehatan yang
profesional maka bidan dalam melakukan tugasnya wajib memenuhi standar profesi
sesuai dengan apa yang dinyatakan dalam UU No. 23/92 Tentang Kesehatan, bahwa
tenaga kesehatan dalam melakukan tugasnya berkewajiban untuk memenuhi standar
profesi dan menghormati hak pasien.
Sesuai Pasal 53 UU No.
23/92 menetapkan sebagai berikut : Standar profesi adalah pedoman yang harus
dipergunakan sebagai petunjuk dalam menjalankan profesi secara baik. Tenaga kesehatan
yang berhadapan dengan pasien seperti dokter, bidan, dan perawat dalam
melaksanakan tugasnya harus menghormati hak pasien. Standar praktik kebidanan
dibuat dan disusun oleh organisasi
profesi bidan ( PP IBI)
berdasarkan kompetensi inti bidan, dimana kompetensi ini lahir sebagai bukti
bahwa bidan telah menguasai pengetahuan, keterampilan, dan sikap minimal yang
harus dimiliki bidan sebagai hasil belajar dalam pendidikan.
Karena latar belakang
pendidikan kebidanan sangat bervariasi maka organisasi profesi IBI membuat
standar praktik bidan berdasarkan kompetensi inti sehingga dengan adanya
standar praktik kebidanan, bidan mempunyai suatu ukuran yang sama untuk semua
bidan dalam melaksanakan tugasnya walaupun latar belakang pendidikannya
berbeda-beda.
Maka Standar praktik kebidanan adalah pelayanan kebidanan
yang diberikan oleh bidan yang telah terdaftar dan memperoleh surat izin
praktik bidan (SIPB) dan dari pemerintah (DIKES setempat) untuk melaksanakan
praktik pelayanan kebidanan secara mandiri, tetapi standar praktik mengacu
kepada kopetensi inti (Care Competency).
1. Hubungan
Standar Praktek Kebidanan Dengan Hukum dan Perundang-undangan
Bidan merupakan profesi yang selalu mempunyai ukuran
standar profesi. Standar profesi bidan
yang terbaru adalah aturan dalam PERMENKES
RI No. HK.02.02/MENKES/149/2010 tentang izin dan penyelenggaraan praktik bidan.
Lingkup praktik kebidanan yang digunakan
meliputi asuhan mandiri/otonomi pada anak-anak, remaja puteri dan wanita
sebelum, selama kehamilan dan selanjutnya.
B. Standar Praktik
Kebidanan
Standar
praktik kebidanan terbagi atas :
Standar I :
Metode Asuhan
Asuhan
Kebidanan dilaksanakan dengan metode manajemen kebidanan dengan langkah :
Pengumpulan data dan analisis data, penentuan diagnosa perencanaan pelaksanaan,
evaluasi, dan dokumentasi.
Difinisi Operasional :
1.
Ada format manajemen
kebidanan yang sudah terdaftar pada catatan medis.
2.
Manajemen
kebidanan terdiri dari : format pengumpulan data, rencana format pengawasan
resume dan tindak lanjut catatan kegiatan dan evaluasi.
Standar II :
Pengkajian
Pengumpulan
data tentang status kesehatan kilen dilakukan secara sistematis dan
berkesinambungan. Data yang diperoleh dicatat dan dianalisis.
Difinisi
Operasional :
1.
Ada format pengumpulan
data
2.
Pengumpulan data
dilakukan secara sistematis, terfokus, yang meliputi data :
1. Demografi identitas
klien
2.
Riwayat penyakit terdahulu
3. Riwayat
kesehatan reproduksi
4. Keadaan kesehatan saat ini termasuk kesehatan
reproduksi
5.
Analisis data
Data dikumpulkan
dari :
1. Klien/pasien, keluarga
dan sumber lain
2.
Teanaga kesehatan
3.
Individu dalam lingkungan terdekat
Data diperoleh
dengan cara :
1. Wawancara
2. Observasi
3. Pemeriksaan
fisik
4. Pemeriksaan
penunjang
Standar III :
Diagnosa Kebidanan
Diagnosa
kebidanan dirumuskan berdasarkan analisis data yang telah dikumpulkan.
Difinisi Operasional :
Difinisi Operasional :
1.
Diagnosa kebidanan
dibuat sesuai dengan kesenjangan yang dihadapi oleh klien / suatu keadaan
psikologis yang ada pada tindakan kebidanan sesuai dengan wewenang bidan dan
kebutuhan klien
2.
Diagnosa kebidanan
dirumuskan dengan padat, jelas sistematis mengarah pada asuhan kebidanan yang
diperlukan oleh klien.
Standar IV :
Rencana Asuhan
Rencana
Asuhan kebidanan dibuat berdasarkan diagnosa kebidanan
Difinisi Operasional :
Difinisi Operasional :
1.
Ada format rencana
asuhan kebidanan
2.
Format rencana asuhan
kebidanan terdiri dari diagnosa, rencana tindakan dan evaluasi
Standar V :
Tindakan
Tindakan kebidanan dilaksanakan
berdasarkan rencana dan perkembangan keadaan klien : tindakan kebidanan
dilanjutkan dengan evaluasi,keadaanklien
Difinisi Operasional :
Difinisi Operasional :
1.
Ada format tindakan
kebidanan dan evaluasi
2.
Format tindakan
kebidanan terdiri dari tindakan dan evaluasi
3.
Tindakan kebidanan
dilaksanakan sesuai dengan rencana dan perkembangan klien
4.
Tindakan kebidanan
dilaksanakan sesuai dengan prosedur tetap dan wewenang bidan atau tugas
kolaborasi
5.
Tindakan kebidanan
dilaksanakan dengan menerapkan kode etik kebidanan etika kebidanan serta
mempertimbangkan hak klien aman dan nyaman
6.
Seluruh tindakan
kebidanan dicatat pada format yang telah tersedia
Standar VI :
Partisipasi Klien
Tindakan
kebidanan dilaksanakan bersama-sama/partisipasi klien dan keluarga dalam rangka
peningkatan pemeliharaan dan pemulihan kesehatan
Difinisi
Operasional :
Klien/keluarga
mendapatkan informasi tentang :
1.
status kesehatan saat
ini
2.
rencana tindakan yang
akan dilaksanakan
3.
peranana klien/keluarga
dalam tindakan kebidanan
4.
peranan petugas
kesehatan dalam tindakan kebidanan
5.
sumber-sumber yang
dapat dimanfaatkan
Klien
dan keluarga bersama-sama dengan petugas melaksanakan tindakan kegiatan.
Standar VII :
Pengawasan
Monitor/pengawasan
terhadap klien dilaksanakan secara terus menerus dengan tujuan untuk mengetahui
perkembangan klien
Difinisi
Operasional :
1.
Adanya format
pengawasan klien
2.
Pengawasan dilaksanakan
secara terus menerus sitematis untuk mengetahui keadaan perkembangan klie
3.
Pengawasan yang
dilaksanakan selalu dicatat pada catatan yang telah disediakan
Standar VIII :
Evaluasi
Evaluasi
asuhan kebidanan dilaksanakan terus menerus seiring dengan tindakan kebidanan
yang dilaksanakan dan evaluasi dari rencana yang telahdirumuskan.
Difinisi Operasional :
Difinisi Operasional :
1.
Evaluasi dilaksanakan
setelah dilaksanakan tindakan kebidanan.Klien sesuai dengan standar ukuran yang
telah ditetapkan
2.
Evaluasi dilaksanakan
untuk mengukur rencana yang telah dirumuskan
3.
Hasil evaluasi dicatat
pada format yang telah disediakan
Standar IX :
Dokumentasi
Asuhan
kebidanan didokumentasikan sesuai dengan standar dokumentasi asuhan kebidanan
yang diberikan
Difinisi
Operasional :
1.
Dokumentasi
dilaksanakan untuk disetiap langkah manajemen kebidanan.
2.
Dokumentasi
dilaksanakan secara jujur sistimatis jelas dan ada yang bertanggung jawab
Dokumentasi
merupakan bukti legal dari pelaksanaan asuhan kebidanan
3.2. SAP (SATUAN ACARA PRAKTIK)
Mata Kuliah : Pelayanan Keluarga
Berencana
Kode Mata Kuliah : BD. 308
Beban Studi : 2 SKS
Pertemuan : I
Hari/Tangal : Selasa/21 April 2015
Tempat Praktik :
Akademi Kebidanan Assyifa
Pembimbing : Desi Sitompul
A. Tujuan Pembelajaran
1. Tujuan
Umum
setelah menyelesaikan
bimbingan , mahasiswa diharapkan dapat
melakukan pemasangan alat kontrasepsi Implan
2. Tujuan
Khusus
setelah mengikuti bimbingan mengenai
pemasangan alat kontrasepsi implan yang benar
mahasiswa diharapkan mampu :
a.
Melakukan persiapan
alat pemasangan Implan
b.
Melakukan tindakan
pemasangan Implan terhadap pasien
c.
Melakukan konseling
pasca tindakan pemasangan Implan
B. Pokok Bahasan
Pemasangan Kotrasepsi Implan
C. Sub Pokok
Bahasan
a. Praktik
pra tindakan pemasangan Implan
b. Tindakan
pemasangan Implan
c. Praktik
pasca tindakan pemasangan Implan
D.
Kegiatan
Pembelajaran
Tahap
|
KegiatanDosen
|
KegiatanMahasiswa
|
Metode
|
Waktu
|
Media
|
Pendahuluan
|
1. Menyampaikan salam
2. Menyampaikan tujuan
3. Absensi
4. Melakukan apersepsi
|
- Menjawab salam
- Memperhatikan
- Menyimak
- Menyimak
|
Diskusi
|
20 menit
|
|
Penyajian
|
1. Mendemonstrasikan pra tindakan
pemasangan Implan
2. Mendemonstrasikan pemasangan
Implan
3. Mendemonstrasikan pasca tindakan
pemasangan Implan
4. Meminta mahasiswa
mendemonstrasikan pemasangan Implan
|
- Memperhatikan
- Mendemonstrasikan pemasangan
Implan
-
- Memperhatikan
- Menyimak
-
- Menyimak
|
Demon-strasi
|
60 menit
|
Joob sheet
Daftar tilik
Alat Pemasangan Implan
|
Penutup
|
- Menyimpulkan demonstrasi yang
telah dilakukan
- Mengucap salam penutup
|
- Memperhatikan
- Menjawab salam
|
Diskusi
Tanyajawab
|
20 menit
|
E.
Evaluasi
Pembelajaran Klinik
Jenis Evaluasi : Praktik
Bentuk Evaluasi :
Demonstrasi
Alat Evaluasi : Alat Laboratorium Implan
DaftarTilik (check list)
HASIL EVALUASI
PEMBELAJARAN
Mahasiswa
dapat melakukan persiapan untuk teknik pemasangan implan
yang benar berupa tempat, alat dan pasien, melakukan tindakan pemasangan implan
yang benar, melakukan asuhan pasca tindakan teknik pemasangan implan
yang benar.
- Kepustakaan
1.
Hanafi, 2004. KeluargaBerencanadanKontrasepsi, Jakarta, PustakaSinarharapan.
2.
Manuaba, 1998. IlmuKebidanan,
Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana untuk Pendidikan Bidan, Jakarta,
EGC.
3.
Sarwono, 2006, BukuPanduanPraktisPelayananKontrasepsi,
Jakarta, YBPSP
AKADEMI KEBIDANAN ASSYIFA TANGERANG
Jl. DR.
Sitanala Komplek Purnabhakti No. 64 Tangerang
Provinsi Banten 15121. Telp. (021) 55733720 Fax. (021) 55733684
NAMA :
______________________________________
NOMOR
UJIAN :
______________________________________
TANGGAL UJIAN : ______________________________________
DAFTAR
TILIK
PEMASANGAN
IMPLAN
Nilailah setiap kinerja
menggunakan skala sebagai berikut
|
|||
0
|
Gagal
|
:
|
Bila langkah klinik tidak dilakukan
|
1
|
Kurang
|
:
|
Langkah klinik dilakukan tetapi tidak mampu
mendemonstrasikan Sesuai prosedur
|
2
|
Cukup
|
:
|
Langkah klinik dilakukan dengan bantuan, kurang
terampil atau kurang cekatan dalam mendemonstrasikan dan waktu yang
diperlukan relatif lebih lama menyelesaikan suatu tugas
|
3
|
Baik
|
:
|
Langkah klinik dilakukan dengan bantuan, kurang
percaya diri, kadang-kadang cemas dan memerlukan waktu yang depat
dipertanggung jawabkan
|
4
|
Sangat Baik/Mahir
|
:
|
Langkah klinik dilakukan dengan benar dan tepat
sesuai dengan tehnik prosedur dalam lingkup kebidanan dan waktu efisien
|
NO
|
KOMPONEN
|
PENILAIAN
|
|||||
0
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|||
MEMPERSIAPKAN PENJAHITAN
|
|||||||
1.
|
Persiapan Alat:
a. Tensi
b. Stetoskop
c. Tempat tidur periksa
d. Alat penyangga lengan (tambahan)
e. Perlak dan pengalas.
f.
Bak intrumen
yang berisi :
- 1 pasang handscoon
- Kain steril/doek
- Kom steril
g. Batang norplant (6 buah) dalam kantong
h. Kom berisi cairan
betadine
i.
Anestesi
lokal konsetrasi 1%
j.
Epinefrin untuk
rejatan anafilaktik
k. Spuit 5 cc dan jarum no.22
l.
Trokart
no.10
m. Skapel no.11/15
n. Plester/band aid
o. Klem penjepit
p. Pinset
q. Bengkok
r.
Larutan
chlorin 0,5%
s. Sabun dan handuk tangan
|
||||||
2.
|
Persiapan pasien :
a. Pastikan pasien benar-benar memilih metode kontrasepsi implant sebagai pilihannya.
b. Jelaskan kepada pasien prosedur yang akan dilakukan.
c. Mempersilahkan pasien untuk mengajukan pertanyaan
bila kurang mengerti.
d. Sampaikan kepada pasien kemungkinan akan merasa
sedikit sakit pada beberapa langkah waktu pemasangan dan nanti akan
diberitahu bila sampai pada
langkah-langkah tersebut.
e. Minta pasien untuk mencuci daerah yang akan dipasang
implant.
|
||||||
MEKANISME KERJA
|
|||||||
3.
|
Memberi
salam pada pasien dan sapa dengan ramah dan hangat.
|
||||||
4.
|
Dekatkan alat-alat
dekat pasien:
·
Alat-alat untuk
pemeriksaan fisik dan pemasangan implan
·
Siapkan ruangan
dengan cahaya yang cukup.
|
||||||
5.
|
Pasang sampiran
|
||||||
6.
|
Cuci tangan
·
Dibawah air
mengalir dengan sabun dan keringkan dengan handuk.
|
||||||
7.
|
Timbang
berat badan pasien.
|
||||||
8.
|
Ukur tekanan
darah
|
||||||
9.
|
Lakukan
pemeriksaan payudara
·
Ajari pasien
cara memeriksa payudara sendiri.
|
||||||
10.
|
Pasang penyangga lengan.
|
||||||
11.
|
Letakkan
perlak dan alas perlak pada bagianbawah lengan .
|
||||||
12.
|
Tentukan
tempat pemasangan yang optimal
·
8 cm dari
atas lipatan siku
·
Gunakan pola
dan spidol untuk menandai tempat insisi.
|
||||||
13.
|
Siapkan
batang implant
·
Buka bungkus
steril tanpa menyentuhnya
·
Letakkan
pada kom steril
|
||||||
PEMASANGAN
IMPLANT
|
|||||||
14.
|
Atur
alat dan bahan sehingga mudah dicapai.
|
||||||
15.
|
Pakai sarung
tangan steril.
|
||||||
16.
|
Hitung
jumlah kapsul untuk memastikan jumlahnya .
|
||||||
17.
|
Persiapkan
tempat insisi dengan larutan antiseptic
·
Gunakan klem
steril untuk memegang kassa berantiseptik
·
Mulai
mengusap dari tempat yang akan dilakukan insisi keluar dengan gerakan
melingkar sekitar 8-13 cm dan biarkan kering sekitar 2 menit.
|
||||||
18.
|
Pasang duk
bolong steril
|
||||||
19.
|
Pastikan
pasien tidak alergi terhadap anestesi.
|
||||||
20.
|
Lakukan
anestesi local
·
Masukkan
jarum tepat dibawah kulit pada tempat insisi
·
Pastikan
tidak masuk dalam pembuluh darah.
·
Tanpa
memindahkan jarum masukkan kebawah kulit sekitar 4 cm.
·
Suntikkan
masing-masing 1 cc diantara pola pemasangan 1 & 2, 3 & 4, 5 & 6
|
||||||
21.
|
Uji efek
anestesinya
|
||||||
22.
|
Buat insisi
dangkal selebar 2 mm dengan skapel.
|
||||||
23.
|
Sambil
mengungkit ,tusuk trokart dan pendorongnya sampai batas tanda 1 dekat pangkal
trokart.
|
||||||
24.
|
Tarik
pendorong keluar.
|
||||||
25.
|
Masukkan
kapsul implant kedalam trokart dengan
tangan atau dengan pinset.
|
||||||
26.
|
Masukkan
kembali pendorong dan dorong kapsul sampai ada tahanan.
|
||||||
27.
|
Tarik
trokart dan pendorongnya bersama-sama
sampai batas ujung trokart
Ø Ujung trokart harus tetap berada dibawah kulit.
|
||||||
28.
|
Fiksasi
ujung kapsul implant yang telah dipasang.
|
||||||
29.
|
Arahkan
ujung treokart untuk memasang kapsul berikutnya sesuai dengan pola.
|
||||||
30.
|
Cabut
trokart setelah kapsul terakhir dipasang.
|
||||||
31.
|
Raba kapsul
untuk mengetahui enam kapsul implant telah terpasang dengan deretan seperti kipas.
|
||||||
32.
|
Periksa
daerah insisi untuk mengetahui seluruh kapsul berada jauh dari insisi.
|
||||||
33.
|
Dekatkan
ujung-ujung insisi.
|
||||||
34.
|
Pasang
plester/band aid pada luka insisi.
|
||||||
TINDAKAN PASCA
PEMASANGAN
|
|||||||
35.
|
Buang bahan-bahan
habis pakai yang terkontaminasi.
|
||||||
36.
|
Rendam
seluruh peralatan yang sudah terpakai dengan larutan chlorine 0,5% selama
10 menit.
|
||||||
37.
|
Cuci tangan
dengan larutan chlorin 0,5% kemudian
lepaskan sarung tangan dalam posisi terbalik.
|
||||||
KONSELING PASCA
TINDAKAN
|
|||||||
38.
|
Lengkapi
rekam medik.
|
||||||
39.
|
Minta pasien
menunggu di klinik selama 15-20 menit
setelah pemasangan.
|
||||||
40.
|
Berikan
petunjuk pada pasien tentang perawatan luka insisi dirmh.
|
||||||
41.
|
Bila
terdapat tanda-tanda infeksi, segera kembali ke klinik.
|
||||||
42.
|
Yakinkan
bahwa pasien dapat dating ke klinik
setiap saat bila memerlukan konsultasi.
|
||||||
Tangerang,..........................2015
Penguji
(................................................)
Penuntun Belajar (joob sheet)
Nama Pekerjaan :
Pemasangan Implan
Unit :
Asuhan Kebidanan
Dosen :
Desi Sitompul
Referensi :
1.
Sarwono, 2006, BukuPanduanPraktisPelayananKontrasepsi,
Jakarta, YBPSP
2.
Manuaba, 1998. IlmuKebidanan,
3.
PenyakitKandungandanKeluargaBerencanauntukPendidikanBidan, Jakarta,
EGC.
4.
Hanafi, 2004. KeluargaBerencanadanKontrasepsi, Jakarta, PustakaSinarharapan
OPS
Setelah
mengikuti kegiatan demonstrasi mahasiswa dapat mendemonstrasikan cara pemasangan implan dengan berurutan dan
benar sesuai dengan langkah klinik dalam job sheet.
PETUNJUK
1.
Pelajari job sheet terlebih
dahulu sebelum melakukan praktik.
2.
Cara pemasangan implan yang
benar dilakukan secara mandiri oleh mahasiswa
3.
Pemasangan implan yang benar
dipraktikkan langsung pada pasien
Pekerjaan
Lab
- Peralatan Lab
1.
Tensi meter
2.
Stetoskop
3.
Korentang
4.
Sarung
tangan
5.
Doek bolong
6.
Kom kecil
7.
Trokart dan
pendorongnya
8.
Skapel dan
bisturinya
9.
Klem
penjempit
10.
Bengkok
11.
Bak
instrumen
12.
Pinset
13.
Perlak dan
pengalas
14.
Penggaris
15.
Spidol
16.
Batang
implan dalam kantong (indopan / implanon)
17.
Cairan
betadin dalam tempatnya
18.
Kassa
steril pada tempatnya
19.
Spuit 5 cc
20.
Lidocain
inj. 1 % pad tempatnya ( sediakan epinefrin untuk renjatan anafilatik)
21.
Gunting
verban
22.
Plester
23.
Schort
24.
Handuk cuci
tangan
25.
Timbangan
berat badan
26.
Tempat cuci
tangan
27.
Larutan
klorin 0,5 %
28.
Tempat alat
kotor
29.
Tempat
sampah
30.
Sampiran
2. Persiapan Pasien
1. Jelaskan tujuan dan prosedur tindakan yang akan dilakukan
2. Informed consent
3. Anjurkan klien untuk membersihkan lengan sebelah kiri
3. Persiapan Bidan
1.
Menyiapkan
dan mendekatkan alat
2.
Memasang
sampiran
3.
Mematahkan
ampul lidocain dan masukkan spuit kedalam bak instrumen
4.
Siapkan
batang implan,buka bungkus steril tanpa menyentuh batang implan dan letakan
batang implan pada kom steril
5.
Memakai
schort/celemek dan handuk cuci tangan
6.
Mencuci
tangan dengan prinsip 7 langkah
7.
Mengukur TB
dan BB
8.
Persilahkan
klien berbaring ketempat tidur
9.
Melakukan
pemeriksaan payudara dan palpasi derah perut dan periksa ada nyeri,tumor atau
kelainan didaerah supra pubis
10. Memasang pengalas dibawah lengan klien
11. Tentukan tempat pemasangan implan dengan jarak 8 cm dari lipatan
siku dan buat pola dengan spidol untuk menandai tempat insisi
4.
Tindakan
1.
Atur alat
dan vas sehingga mudah dicapai
2.
Pakai
sarung tangan steril
3.
Masukan
lidokain kedalam spuit
4.
Hitung
jumlah kapsul untuk memastikan jumlahnya
5.
Siapkan
tempat insisi dengan larutan antiseptik :
1.gunakan
klem steril untuk memegang kassa berantiseptik
2.mulai
mengusap dari tempat yang akan dilakukan insisi dengan gerakan melingkar kearah
luar sekitar 8-13 cm dan biarkan kering sekitar 2 menit
6.
Pasang doek
bolong steril
7.
Pastikan
klien tidak alergi terhadap obat anastesi ( anamesa)
8.
Lakukan
anastesi lokal :
9.
Masukan
jarum tepat dibawah kulit secara SC
10. Lakukan aspirasi ( pastikantidak masuk ke pembuluh darah)
11. Suntikan masing-masing 1 cc ( dikondisikan diantara pola
pemasangan)
Uji
efek anastesi
12. Buat insisi dangkal selebar 2 mm dengan skapel
13. Sambil mengungkit kulit,tusuk trokart dan pendorongnya sampai
batas tanda 1 dekat pangkal trokar
14. Tarik pendorong keluar
15. Masukan kapsul implan kedalam trokar dengan menggunakan pinset/tangan
16. Masukkan kembali pendorong dan dorong kapsul ke dalam kulit
17. Tarik trokar dan pendorongnya bersama-sama sampai batas ujung
trokar
18. Ujung trokar harus tetap berada dibawah kulit
19. Fiksasi ujung kapsul implan yang sudah dipasang
20. Arahkan ujung trokar untuk memasang kapsul berikutnya sesuai
dengan pola
21. Cabut trokar setelah kapsul terakhir dipasang
22. Raba kapsul untuk menyakinkan jumlah kapsul telah terpasang dengan
baik
23. Periksa daerah insisi untuk menyakinkan seluruh kapsul berada jauh
dari luka insisi
24. Pasang kassa betadin dan plester pada daerah luka insisi
25. Membersihkan alat-alat
26. Cuci tangan dengan prinsip 7 langkah
1.
Pasca tindakan
1. Memberikan penjelasan kepada klien tentang :
2. Cara perawatan luka insisi
3. Penangan bila terjadi efek samping
4. Kunjungan ulang
5. Menganjurkan klien untuk datang ke klinik bila terdapat keluhan
2. Dokumentasi hasil
pemeriksaan
PERSIAPAN
|
||
No
|
Langkah Klinik
|
Intrumen Gambar
|
1.
|
Persiapan :
Siapkan peralatan dan
bahan yang diperlukan sesuai dengan urutan kegiatan.
|
|
2.
|
Persilahkan ibu untuk
duduk dikursi yang telah disediakan
Jelaskan pada ibu
mengenai apa yang akan dilakukan (imformed consent)
|
|
3.
|
Cuci tangan dengan
sabun dan air mengalir lalu pasang
handscoon
|
|
4.
|
Persiapkan tempat
pemasangan dengan larutan antiseptik
|
|
5.
|
Tentukan tempat
pemasangan yang optimal, 8 cm diatas lipatan siku pada bagian dalam lengan
dialur antara otot biseps dan
triseps.gunakan spidol untuk menandai dengan membuat garis sepanjang 6-8 cm
|
|
6.
|
Setelah memastikan
(dari anamesis) tidak ada elergi terhadap obat anestesi, isi alat suntik
dengan 2 ml obat anestesi ( 1% tanpa Epinefrin) dan disuntikan tepat di bawah
kulit sepanjang jalur tempat pemasangan. Pemberian anestesi juga dapat
dilakukan dengan semprotan
|
|
7.
|
Keluarkan inserter
dari kemasannya.regangkan kulit ditempat pemasangan dan masukkan jarum
inserter tepat dibawah kulit sampai masuk seluruh panjang jarum
inserter.untuk meletakkan kapsul tepat dibawah kulit,angkat jarum inserter ke
atas,sehingg kulit terangkat
|
|
8.
|
Lepaskan segel
inserter dengan menekan penopang pendorong inserternya
|
|
9.
|
Putar pendorong
inserter 90 atau 180 derajat dengan mempertahankan pendorong inserter tetap
diatas lengan.
|
|
10.
|
Dengan tangan yang
lain secara perlahan tarik jarum keluar dari lengan sambil tetap
mempertahankan penopang inserter ditempatnya (catatan) prosedur ini
berlawanan dengan suatu penyutikan ,dimana pendorong didorong dan inserter
dipertahankan.
|
|
11.
|
Pada pemasangan kapsul berikutnya,untuk mengurangi
resiko infeksi atau ekspulsi,pastikan bahwa ujung kapsul yang terdekat kurang
lebih 5 mm dari tepi luka insisi
|
|
12.
|
Sebelum cabut trokar,raba kapsul untuk memastikankapsul
semuanya telah terpasang
|
|
13.
|
Ujung dari semua kapsul harus tidah ada pada tepi luka
insisi (sekitar 5 mm) bila sebuah kapsul keluar atau terlalu dekat dengan
luka insisi,harus dicabut dengan hati-hati dan dipasang kembali ditempat yang
tepat
|
|
14.
|
Setelah kapsul terpasang semuanya dan posisi setiap
kapsul sudah diperiksa,keluarkan trokar pelan-pelan.tekan tempat insisi
dengan jari menggunakan kassa selama 1 menit untuk menghentikan
perdarahan.bersihkan tempat pemasangan dengan kassa berantiseptik.
|
TINDAKAN
SETELAH PEMASANGAN KAPSUL
Menutup
luka insisi
1. Temukan
tepi kedua insisi dan gunakan band aid atau plester dengan kassa steril untuk
menutup luka insisi. Luka insisi tidak perlu dijahit karena dapat menimbulkan
jaringan parut
2. Periksa
adanya perdarahan. Tutup daerah pemasangan dengan pembalut untuk hemostatis dan
mengurangi memar ( perdarahan subkutan)
Perawatan
klien
1. Buat
catatan rekam medik tempat pemasangan kapsul dan kejadian tidak umum yang
mungkin terjadi selama pemasangan
2. Amati
klien lebih kurang 15 sampai 20 menit untuk memungkinkan perdarahan dari luka
insisi atai efek lain sebelum memulangkan klien.beri petunjuk untuk perawatan
luka insisi setelah pemasangan ,kalau bisa diberikan secara tertulis.
PETUNJUK
PERAWATAN LUKA INSISI DI RUMAH
1. Mungkin
akan terdapat memar,bengkak atau sakit di daerah insisi selama beberapa
hari,hal ini normal
2. Jaga
luka insisi tetap kering dan bersih selama paling sedikit 48 jam. Luka insisi
dapat mengalami infeksi bila basah saat mandi atau mencuci pakaian
3. Jangan
membuka pembalut tekan selama 48 jam dan biarkan band aid ditempatnya sampai
luka insisi sembuh (umumnya 3-5 hari)
4. Klien
dapat segera bekerja secara rutin. Hindari benturan atau luka didaerah tersebut
atau menambahkan tekanan
5. Setelah
luka insisi sembuh,daerah tersebut dapat disentuh dan dibersihkan dengan
tekanan normal
6. Bila
terdapat tanda-tanda infeksi seperti demam,daerah insisi kemerahan dan panas
atau sakit yang menetap selama beberapa hari,segera kembali keklinik.
BILA TERJADI INFEKSI
1. Obati
dengan pengobatan yang sesuai untuk infeksi lokal
2. Bila
terjadi abses ( dengan atau tanpa ekspulsi kapsul ) cabut semua kapsul
BAB IV
PEMBAHASAN
4.1.
Analisa
Setelah
melaksanakan praktik kependidikan
Macroteaching terhitung mulai
tanggal 06April sampai 24 April 2015 di Akademi Assyifa Tangerang
dengan melakukan praktek mengajar di kelas dan laboratorium
di kampus D-III
kebidanan Assyifa
Tangerang. Kegiatan praktik kependidikan Macroteaching pada hari
pertama survey tempat dan orientasi, kontrak dengan pembimbing lahan. Kegiatan
selanjutnya menyusun satuan acara praktik pembelajaran.
Setiap mahasiswa D-4 bidan pendidik STIKES Bina Permata Medika melakukan praktek
mengajar didampingi oleh dosen
pembimbing. Setelah selesai dilanjutkan dengan diskusi hasil evaluasi dari
mengajar untuk memberikan masukan tentang kekurangan dalam teknik mengajar.
Dengan melaksanakan bimbingan ini
penulis dapat merasakan peran sebagai pengajar
ini tidaklah mudah karena
harus dapat berinteraksi dengan baik tidak hanya pada mahasiswa, tetapi juga dengan dosen atau staf tempat
dimana mahasiswa praktik serta
penguasaan materi dalam mengajar.
4.2. Kelebihan
Adapun
kelebihan yang diperoleh yaitu :
1. Pembimbing macroteaching
di kelas dengan memberikan materi ataupun macroteaching di laboraturium,
pembimbing senantiasa memberikan bimbingan dan meluangkan waktu sehingga proses
macroteaching dari persiapan hingga pelaksanaan semua dapat berjalan lancar.
2. Aktifnya
mahasiswa dalam proses pengajaran macroteaching ini memudahkan kami untuk
memberikan pelajaran di kelas dan di laboraturium. Kegiatan makroteaching
diberikan pada mahasiswa Tingkat I
semester II dan Tingkat II semester IV.
4.3. Kendala
Dalam kegiatan makroteaching
ini tidak ada kendala apapun, karena pembimbing macroteaching di kelas dengan memberikan
materi ataupun macroteaching di laboraturium, pembimbing senantiasa memberikan
bimbingan dan meluangkan waktu sehingga proses macroteaching dari persiapan
hingga pelaksanaan semua dapat berjalan lancar.
BAB V
PENUTUP
5.1.
Kesimpulan
Dari hasil
praktik
kependidikan macroteaching yang kami
laksanakan mulai
tanggal 06 April sampai 24 April 2015 di Akademi Assyifa Tangerang,
dapat kami simpulkan, bahwa :
1.
Penulis dapat membuat
perencanaan pembelajaran dalam bentuk satuan acara pembelajaran, dan praktik laboratorium
2. Penulis
dapat menyelenggarakan kegiatan mengajar
di kelas dan laboratorium.
3. Penulis
dapat melakukan bimbingan kepada mahasiswa D-3 kebidanan yang melaksanakan
praktik di laboratorium.
4. Penulis
dapat memfasilitasi pengembangan keterampilan mahasiswa D-3 kebidanan yang
melaksanakan
praktik klinik melalui demonstrasi
di laboratorium.
5.2.
Saran
1.
Bagi mahasiswa
Lebih
kreatif dalam melaksanakan kegiatan praktik klinik dengan ataupun tanpa
pembimbing, meningkatkan disiplin dalam melaksanakan tugas, memanfaatkan waktu
dengan sebaik mungkin untuk mencapai perasat yang diharapkan, serta meningkatkan keterampilan dengan belajar dan
praktik yang baik sesuai standar yang berlaku.
2. Bagi
pendidikan
Dapat
memberikan bimbingan secara terus-menerusuntuk
meningkatkan kemampuan mahasiswa dan mengevaluasi sejauh
mana mahasiswa dapat mencapai keterampilan
yang diharapkan.
3. Bagi
tempat praktek
Memberikan
kesempatan yang lebih luas kepada mahasiswa untuk mengaflikasikan ilmu/teori yang
didapat disekolah, guna
meningkatkan keterampilan yang mana nantinya
dapat menjadi pengalaman yang berharga bagi mahasiswa.
4. Bagi
masyarakat
Dapat
kiranya menerima mahasiswa sebagai
petugas kesehatan seutuhnya yang mampu memberikan pelayanan kesehatan yang baik dan aman bagi masyarakat yang dilayani serta dapat
meningkatkan kemandirian dalam memberikan pelayanan.
FOTO KEGIATAN MENGAJAR
FOTO KEGIATAN PRAKTEK
FOTO KEGIATAN DISKUSI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar